Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Live and Learn



Aku takut aku mulai berubah, menjadi seseorang yang angkuh. Kesepianku saat ini membuatku merasa lemah, sementara aku harus tetap melanjutkan hidup. Aku tidak bisa menampakkan kesedihanku dan membuat orang-orang terdekatku terlalu khawatir. Aku harus sembuh dari luka ini. Aku putuskan untuk lebih mandiri dan mengurangi ketergantunganku dari orang lain. Aku bertanggung jawab atas hidupku.

Tapi ini tidak cukup. Aku merasa hampa. Aku sungguh-sungguh merindukan seseorang yang mensyukuri kehadiranku. Aku rindu menjadi perantara Tuhan untuk membahagiakan orang lain... Aku ingin berjumpa dengan wajah yang bergembira dalam kesederhanaan.. Aku rindu digunakan oleh Tuhan bagi kebaikan lebih banyak orang. Aku membutuhkannya untuk menyeimbangkan kemandirianku dan mengembalikan diriku yang lembut... Aku tidak ingin berubah menjadi angkuh...

Ya Allah, bantulah aku untuk menjadi sebaik-baik jiwa untuk seorang pria yang telah Engkau siapkan untukku..

Sabtu, 24 Maret 2012

Perfect?



Watak itu tidak terbentuk dalam waktu sekejap, tapi melalui pengulangan dalam kebiasaan.  I was an acute perfectionist. Aku hanya mengenal dua tempat di dunia: puncak dan palung. Aku hanya tahu dua kata : best and worst. Aku begitu peduli dengan yang orang lain katakan tentang aku. Ingin selalu terlihat sempurna. Bagaimana ini bermula, aku sendiri tidak tahu. Aku berusaha meraih diriku di masa lalu dan berhasil menemukan satu hari yang kutakuti...

Aku benci lorong kelas. Aku benci berdiri di sana dan mendapati diriku seorang diri, dihukum karena lupa bawa ikat pinggang.  Itu adalah untuk pertama kalinya aku “melanggar aturan”. Saat itu saya hanya anak-anak Pak.. dan Anda mengajarkan kepada saya tentang sesuatu yang Anda sebut--kedisiplinan.  Apa Anda tahu, pola pikir itu menjadi sesuatu yang menjadi bagian dari diri saya untuk sekian lama? Saya selalu mengerjakan tugas saya. Saya selalu memasukkan seragam saya, saya tidak pernah lupa memakai ikat pinggang, kuku saya selalu pendek, hitam putih menjadi warna favorit sepatu dan kaos kaki saya.  Sampai suatu hari... Saya demam tinggi, masuk UKS, dan tidak mengikuti pelajaran hanya karena  saya lupa membawa LKS.  Saya merasa sangat tertekan. Dan ketika saya tumbuh saya kian menyadari bahwa demam tinggi, sakit kepala dan kekacauan pada diri saya saat itu... bukan tentang LKS. Masalah yang sebenarnya adalah saya tidak bisa menerima kekurangan saya. Saya takut berbuat salah. Karena ketika ada yang kurang dari diri saya, Anda meninggalkan saya. Dan entah bagaimana, saya tidak bisa menerima saya ini manusia.
Hari ini adalah 12 tahun sejak saat itu. Aku tidak akan jadi sesehat ini, kalau aku tidak belajar untuk memaafkan ketidaksempurnaanku. Aku belajar ‘ndableg’—aku lebih suka menyebutnya dengan ‘mempertahankan prinsip’ #hehehe, belajar menulikan telingaku dari perkataan yang merendahkan dan tidak lagi menyibukkan pikiran dengan mereka yang diciptakan untuk menguji kesabaran orang lain. ^_^v
Hidupku dipenuhi dengan keajaiban. Bagaimana aku menjalaninya, cukup aku dan Tuhan yang tahu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama aku mengupayakan kebaikan. Aku butuh lebih banyak senyum dan tawa dari orang-orang yang ada di sekitarku. :)

Shareaholic