Selasa, 22 November 2011
Hope
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan, izinkan aku untuk mencintainya. Namun bila waktuku telah habis dengannya, biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja...
Penjaga
Hey, aku punya sesuatu,
Sudah lama sekali aku menyimpannya,
aku ingin sekali meminjamkannya padamu
Ini terbuat dari bahan yang bagus,
Tidak mudah pecah meski dibanting-banting
Setiap kali kamu mengabaikannya, ia masih terlihat baik
Tapi sebenarnya ada retakan di bagian dalam,
Hati-hati, sekali lagi kamu melakukannya, ia akan remuk
Dan oops,
Kamu baru saja meremukkannya sebagian
Tidak apa-apa, masih ada setengah,
Masih bisa digunakan
Tiba-tiba kau datang padaku, dengan wajah muram
Mengatakan kamu tidak bahagia bersamaku.
Oh, tidakkah kamu tahu,
Baru saja ia remuk seluruhnya
Menganak sungai,
Kamu kembalikan padaku dalam keeadaan remuk
Kamu bertanya apa aku baik-baik saja,
Dan kukatakan, bagaimana bisa?
Itu satu-satunya yang kumiliki.
Aku datang kepada yang membuatkannya untukku,
Hey, inipun pinjaman
Aku meminjamnya
Bagaimana ini, apakah Engkau marah kepadaku?
Tuhan, aku kembalikan kepada-Mu,
Engkau yang membuatnya,
Hanya Engkau yang dapat menyatukannya kembali…
Suatu saat, izinkan aku meminjamkannya
pada ia yang bisa menjaganya
Jumat, 11 November 2011
7 Habits : Real Solutions for Teenager’s Problem
Title : The 7 Habits of Highly Effective Teens ( 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat
Efektif)
Author : Sean Covey
Publisher : Binarupa Aksara
Publication : 2001
Sum of page : 356 pages
Having authority but not acting like a teacher—that is my first impression about The 7 Habits of Highly Effective Teens which is written by Sean Covey. This book gives right direction to teenagers about how to change their life to be a success teenager. Yes, this book is a real solution of teenager’s problems.
This book is talked by people in many states. It gives us new glasses how to look at this life. It opens our eyes that we must change our paradigm first, before we change everything in our life. As its title, it offers seven effective habits for teenager like be proactive, make reference to final destination or start with remember the destination, put first things first, think win or win, seek first to understand and then to be understood, synergize and sharpen the saw.
The important thing here is there are baby’s steps that make the readers can apply what they have read. Different from other motivation books, The 7 Habits of Highly Effective Teens is completed with baby’s steps that make the reader know what have to do, and it really a baby’s step because it is little and easy to do just like baby ways when he doing something. Do not worry, Sean conveied his idea with teenager’s language which make this book not bored to read. There are attractive animations to represent the writer’s idea. There are short inspirative words in the box and massages that proper to be mused. Also, this book is riched with many nudge stories from teenagers in the world. From writing side, like its size of letter, space, paper; make the reader feel comfort and continue reading with all pleasure. Although its size as like as a dictionary’s size that make someone who have just like reading feels “scare” in begin, but really, when we start to read, it feels like do not want to stop read it!
Hope The Seven Habits of Effective Teens could help you like what it has done to me.
Jumat, 28 Oktober 2011
Ungroup
Aku belum pernah sesedih ini. Lembur sampai subuh, melewati jam 23.00 dengan tidak beristirahat, mata sembab, berair, lemes hanya untuk.. sebuah penyepelean? Oh my God.. Aku bisa gila. Kalau seperti ini terus.. Aku akan jadi seseorang yang angkuh..
Sulit sekali bagiku untuk mempercayai orang lain. Karena itulah, aku tidak cocok dalam kerja kelompok. I do it myself, my way. Sejujurnya kerja kelompok menimbulkan trauma psikologis yang sulit sembuh karena terjadi berulang kali. Aku selalu sendirian : menghadapi ketakutan sendiri, berpikir sendiri, berusaha sendiri, ada masalah memecahkannya sendiri.. Lebih baik sendirian, daripada bertujuh tapi merasa sendirian. Karena mereka tidak bertanggung jawab, terlalu menganggap remeh & terlalu mempercayaiku. Karena mereka keterlaluan.
Aku sedang mengusahakan untuk pulih dari luka lama, aku izinkan mereka membantuku.
“Gimana kalau dikirim lewat email aja? Atau ditulis di catatan fb, ntar ditag?”
“Jumat ya In?”
Jumat, Sabtu, Minggu & Senin.. Bohong. Bahkan hingga detik mau presentasi, mereka belum baca materi yang mau dipresentasiin.
“In, tukeran ya, aku yang jadi moderatornya?”
Tukeran???
Ah, aku ingat. Seminggu yang lalu mereka berebut jadi pembicara. Mereka semua ingin ‘terlihat’, sementara harus ada satu yang mengambil tanggung jawab sebagai seseorang yang dianggap ‘tidak penting’—moderator/operator. Dan meskipun aku juga sama, aku ingin jadi pembicara, tapi tidak ada yang mau mengalah.. Aku pikir tidak masalah jadi moderator, toh sebenarnya belum ada moderator dari kelompok lain yang menjalankan tugasnya dengan baik. Dan mendengar seenteng itu dia mengucapkannya… Harga diriku benar-benar diinjak2 olehnya.
“Ndak bisa gitu dong. Pembicara kan tinggal baca, materinya juga ndak banyak kok.”
Presentasi yang kacau. Dosennya tidak hadir, ada yang cuma presensi langsung pulang.. dan mereka tidak mau berpikir mengenai permasalahan yang diajukan teman-teman yang masih bertahan.. Aku menghela nafas panjang, menjawab pertanyaan yang diajukan. Karena itu terlintas di pikiranku.. Aku bisa melakukannya semuanya sendiri. Aku tidak butuh orang lain.
Dan betapa aku ingin membuang jauh2 kesombongan dalam hatiku.. Aku tidak menginginkannya. Aku ingin jadi wanita yang anggun dan ramah, tapi akan sulit sekali ketika ada kesombongan dalam hatiku. Entahlah..
Saat ini hatiku diliputi kemarahan. Aku meletus. Lemah.
Senin, 10 Oktober 2011
Curhat : Kesal
“Aku kesal”. “Aku marah”. “Sikapmu itu sungguh telah melukai harga diriku”. Kenapa sulit sekali bagiku untuk mengatakannya? Aku lemah...
Aku terbiasa dengan perlakuan semena-mena. Aku tidak suka melihat barang-barangku dipakai tanpa seizinku. Beberapa barang kubeli sendiri dengan uang sakuku, dan aku benar-benar tidak terima mereka diperlakukan kasar dan tidak hormat. Aku marah. Aku kesal waktu kaukatakan kamu menghilangkannya. Ini sungguh bukan hal sepele bagiku.
Setiap orang itu menyebalkan. Ketika berbuat salah, mereka hanya mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Mereka menyiksaku dengan rasa bersalah dan permintaan maaf yang bertubi-tubi. Mereka minta maaf. Iya aku dengar, aku tidak tuli kok. Tapi aku juga tidak buta. Aku bisa melihat kalau kau tidak sungguh-sungguh mengucapkannya. Kamu hanya ingin dengar “nggak papa”. Oh my God… kau bahkan langsung lupa waktu aku mengucapkannya.
Aku terluka. Aku terlalu takut menyakiti orang lain. Terlalu takut dianggap jahat oleh diriku sendiri. Tapi aku sering melukai orang-orang yang kucintai. Aku tidak pernah ingin melakukannya… Hanya saja kadang-kadang aku melakukan sesuatu yang membuat mereka salah mengerti. Dan aku belajar untuk tidak lagi mudah mengatakan “maaf”, sebelum aku melakukan sesuatu untuk mengembalikan harga diri orang yang kulukai.
Selama ini sikap baik yang terlihat hanyalah kelemahanku saja. Aku belum bisa bersikap baik karena memang aku memilih bersikap demikian. Bersikap baik pada saat itu terjadi itu terlalu dipaksakan, karena seharusnya aku membiarkan mereka tahu apa yang kurasakan terlebih dahulu. Aku harus belajar untuk mengatakannya dengan anggun : menimbulkan efek jera dan ada keinginan untuk memperbaikinya bersama-sama. Memang benar, aku akui aku hipersensitif dengan tindakan orang lain. Aku mudah terluka, bahkan dengan sesuatu seperti nada bicara yang biasanya disepelekan oleh banyak orang. Dan sebenarnya juga mudah memaafkan, jika saja kamu membantuku agar aku mau melihat keadaanmu… Aku bisa dengan mudah mengerti. Hanya saja, di saat-saat seperti itu aku ingin dimengerti terlebih dahulu…
Sudahlah...
Selasa, 20 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Thinking about Future
“Orang yang mengatakan cinta itu ada masanya adalah mereka yang tidak mengerti bagaimana mengasihi orang lain.”
Ah, betapa aku merindukan seseorang yang mengatakan itu padaku. Dua setengah tahun bersamanya dan sudah satu tahun ini menjadi kekasihnya, aku rasa cinta memang bukan sekedar aktivitas hormon belaka. Dulu aku juga melakukan hal ganjil. Aku memandangi potret sepatunya di handphoneku yang kuambil diam-diam (saking susahnya memotret wajahnya), aku tulis puisi untuk dia, deg2an baca smsnya, meledak tiap dia telepon (hehe), aku sering menyanyikan lagu Cinta dalam Hati dan lagu-lagu cinta lainnya untuk dia, diariku hanya berisi tentang dia dia dia, menulis setiap momen indah bersamanya dan menyimpannya untuk diriku sendiri.. Meski lebih kalem, kegilaan itu masih berlanjut hingga hari ini. Diam-diam aku membayangkan keluarga kami, bagaimana rumah kami, dapurnya, tamannya, kehangatannya...
Beberapa waktu lalu ia bercerita tentang rumah impiannya, lebih spesifik dia bercerita tentang bagaimana ruang keluarganya. Sebuah rumah mungil dengan taman yang luas, ruang keluarga dengan lantai kayu plitur, lampu yang redup seperti yang ada di bank… Nuansa cokelat dan oranye… Dari sini aku bisa merasakan kalau priaku merindukan kehangatan keluarga. Sementara rumah yang mungil dengan taman yang luas memberi kesan damai, indah, nyaman.
Aku sendiri membayangkan sebuah rumah dengan dapur yang memiliki peralatan dapur yang lengkap, memasak desert setiap Sabtu dan Minggu untuk keluargaku… Piknik kebun… Lengkap dengan taman yang ada tanaman anggur dengan buah yang besar, rumput hijau, kursi taman, pohon jeruk yang pendek dan berbuah dan kolam ikan… Aku merindukan kehidupan yang nyaman dan kebersamaan sebuah keluarga.
Aku tidak ingin lekas-lekas, karena aku menikmati prosesnya. Aku menyukai diriku yang sekarang, yang merawat tubuh, yang berusaha menjadi anggun, yang menghargai kualitas… Ya Allah, jadikanlah aku wanita yang baik, yang sehat, anggun dan sabar… Kuatkan priaku, jadikanlah dia pria yang baik, sehat, bijaksana dan bertanggung jawab… ^_^
“I never know what the future brings
But I know you’re here with me nowWell make it throughAnd I hope you are the one I share my life withAnd I wish that you could be the one I die withAnd I pray in you're the one I build my home withI hope I love you all my life…”
Langganan:
Postingan (Atom)





